DILEMA SUB-KULTUR DAN KRISIS IDENTITAS
March 31st, 2010 § 1 Comment
Dan saya bukan seorang nasionalis ekstrimis…
Dan saya bukan seorang idealis pragmatis…
Dan saya bukan seorang utopis melankolis…
Dan saya tidak menawarkan solusi tetapi kontemplasi…
Dan saya tidak (walau sebenarnya ingin) menyalahkan globalisasi…
Modernisasi dan globalisasi tidak bisa dihindari oleh semua bangsa, ini yang selalu menjadi argumen yang cukup populer dikalangan kritikus, penulis, atau pemikir modern saat ini. Dimana semua aspek hidup kita sudah di embel-embel dengan kata modern, dari mulai gaya hidup, cara berpakaian, makanan yang kita makan, handphone, internet, liberal atau lebih sopan moderat, buku yang kita baca, hingga cara berbicara. Modernisasi menjadi sebuah penyelamat kita semua. Menjadi manusia lebih baik (?)
Kreativitas, penuh semangat, enerjetik, hip dan selalu terkini selalu dekat dengan generasi muda saat ini. Semua hal di usung atas nama kreativitas dan pembaharuan. Dimana semenjak akhir abad 20, generasi muda kita dibanjiri dengan maraknya sub kultur yang populer, dari mulai musik underground, skater boy, dandanan anak band, filosofi barat, gaya bicara prokem, subversi status quo dan anarkisme ringan. Dan semuanya cukup terakulturasi secara baik dengan generasi muda kita, tepat karena enerjetik dan penuh kreativitas itu tadi. Kita seolah terhipnotis dengan ideologi yang banyak datang dari barat.
Tidak bisa disangkal modernisasi juga membawa dampak (cukup) positif dengan maraknya industri kreatif di Negara kita semenjak tahun 2000. Bandung mungkin salah satu pusat dari industri tersebut, banyak musisi indie, desainer kreatif, seniman, serta pengusaha muda lahir di Bandung. Semua akibat aliran energi kreatif ini.
Masi ingat awal mula distro anonim sebagai usaha kecil2an desainer muda di gerai sebesar 2×4 meter di jalan cihampelas? Dan hingga kini industri itu tetap bertahan dan terus berkembang, meski tidak se-heboh tahun 2002 dimana pengusaha distro tercatat hingga 300an nama (swa.co.id Kamis, 17 Juli 2008). Dan semenjak itu usaha distro pelan2 merontokkan 50% pemainnya dalam tahun2 berikutnya.
sumber : rizakasela.wordpress.com/
Kemudian lahir inovasi kreatif yaitu 18th Park Bandung (2006), yang sangat sukses, karena membawa konsep baru menggabungkan 23 outlet distro dalam satu atap, menambahkan fungsi skate park dan area terbuka multifungsi yang bisa menampung festival musik. Kini 18th Park menjadi salah satu pusat sub-kultur dan kreativitas di Bandung, marak dikunjungi anak muda dari berbagai latar belakang: skater, fotografer, desainer, seniman, pengusaha, musisi, pengrajin, dan lain sebagainya. Seolah menjadi melting pot dimana terjadi pertukaran ilmu, ketertarikan dan bakat. Seorang fotografer bisa berlatih skill fotonya dengan menangkap gambar2 seorang skater yang sedang beraksi, seorang pengusaha muda bisa bertemu desainer muda untuk bekerja sama, sekelompok musisi indi bisa unjuk kebolehan dan jika beruntung ada produser yang melirik untuk mengajak rekaman. Semua terjadi karena semangat modern dan kreativitas.
Ini menunjukkan adanya sebuah evolusi. Sebuah gerakan underground yang dulu masih sembunyi-sembunyi dan disukai oleh minoritas, menjadi sebuah mainstream bahkan menjadi identitas generasi muda. Mayoritas remaja ingin menjadi skater boy, berbaju distro, bermain musik alternatif, potongan rambut emo, memakai celana kedodoran dan lain sebagainya.
Kita krisis identitas? Kita lupa akan budaya kita? Tidak semua mungkin. Tapi mayoritas.
Mungkin ini menjadi momen yang tepat dimana Indonesia krisis identitas dan budaya, serta datanglah Malaysia yang ‘butuh’ identitas dan budaya sebagai daya jualnya. Salah siapa? Bukan salah siapa-siapa. Semua terjadi di saat yang tepat. Seperti Sherlock dan Watson (dan penulis juga ter-westernisasi, tidak mampu mencari contoh dalam konteks Indonesia…), saling melengkapi.
Tapi kemudian kita emosi dan mencela negara tetangga di berbagai forum di internet dengan apa yang telah mereka lakukan. Mengapa kita tidak menyalahkan diri sendiri, kita sebagai generasi muda juga mempunyai andil dalam hal ini.
Sub kultur adalah suatu hal yang positf, tetapi pertanyaan nya, budaya siapakah itu?
Tidak. Membunuh sub kultur bukan solusi yang ditawarkan juga. Tapi bagaimana mengerahkan energi positif sub kultur ini untuk menanamkan nilai2 budaya kita.
Dan juga bukan memakai batik setiap hari untuk menunjukkan betapa penuh kulturnya diri kita. Atau memasang bendera Indonesia di profile picture facebook, kita tidak harus berteriak nasionalis untuk jadi nasionalis.
Apa sudah tidak relevan warisan budaya kita? Sudah bukan sesuatu yang ‘In’ lagi dan sebaiknya kita musium-kan saja.
Apa sebaiknya kita menjadi manusia global tanpa identitas, dengan satu-satunya identitas adalah nilai2 global. Ya mungkin saja, mungkin saja identitas itu penyakit atau arogansi yang membuat kita ter fragmentasi…
Dan maaf karena tidak memberi solusi…
cakep ulasannya, bro!
sekedar menambahkan: “cub-culture” hanya bisa muncul bila ada ‘critical mass’ atau jumlah massa yang cukup banyak dan solid untuk ‘mengusung’ nilai2nya sendiri. tidak melulu punk atau hip-hop saja, tetapi bisa juga bawaan etnis (misalnya masyarakat pecinan di surabaya, kampung manado di jawa, paguyuban kejawen di jakarta, dst.). justru sebenarnya sub-kultur bisa memperkuat identitas2 lokal/etnik itu.
namun kalau bicara dlm konteks nasional sebagai bangsa, kita perlu menyadari bahwa ada nilai2 bersama yg kita sepakati sebagai bangsa. keindonesiaan, ini mungkin yg semakin kabur tergerus zaman.
cheers!
TSP