Refleksi di reruntuhan Merapi
November 27th, 2010 § Leave a Comment
Bismillahirrahmanirrahim
Dan saya berdiri di persimpangan religi, intelektual dan moralitas…
Dan saya berucap sebagai seorang muslim, seorang pembelajar, dan pecinta kebenaran…
Seobjektif apapun ini, pastilah sangat subjektif…
Bukan, ini bukan hal yang scientific, hanyalah empiric semata…
Duka yang sedalam-dalamnya kepada saudara-saudara kita…
Merapi, Mentawai, Wasior…
Bencana yang melanda tanah air kita secara bertubi-tubi membuat saya duduk dan berpikir mengenai banyak hal, hal yang mungkin saja tidak penting, namun setidaknya ini yang saya percaya. Dimulai dari seliweran pernyataan dari beberapa pihak: politisi, sahabat, pemuka agama hingga media massa mengenai hal yang menimpa tanah air kita membuat saya tergerak untuk sekedar refleksi untuk kepentingan pribadi.
Negara Islam dan bencana?
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu(Muhammad) menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (An Nisa:79)
Teman saya berkata: “Mengapa bencana terjadi di Indonesia yang terkenal Negara muslim terbesar di dunia? Mengapa tidak terjadi di Eropa, atau bahkan Amsterdam, dimana pusat kemaksiatan terjadi?”
Tunggu dulu. Sebelum kita menghakimi seseuatu, alangkah baiknya kita berpikir dua kali, bahkan tiga kali, dengan jernih. Walaupun kita adalah Negara dengan populasi islam terbesar di dunia, namun kita juga salah satu Negara ter-korup di dunia. Walaupun kita adalah Negara demokrasi, namun masih banyak penindasan dimana-mana. Yang pintar membodohi yang lemah, dan terus membodohi dan menindas. Sekarang korupsi bukanlah sebuah aib namun sebuah prestasi. Dan korupsi juga menjadi sebuah kultur, dari hal terkecil hingga memakan uang Negara. Apa yang salah dengan Negara kita? Apa perlu lagi ditanya? Dalam hal ini bukan saya membela Eropa dengan segala kemaksiatannya, dan bukanlah dosa yang satu lebih ringan dari yang lain. Namun ingat:
“…Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya..”(Al-Kahfi : 17)
Mungkin ini sebuah peringatan. Ada yang salah dengan negara kita. Jadi, kalau kita di beri peringatan, maka segeralah bertaubat. Jika kita ingin disesatkan, maka semakin kita akan ditutup pintu hatinya dan dibiarkan begitu saja. Jadi populasi Islam bukanlah indikasi. Dan tidak ada hubungannya Islam dan bencana. Bencana memang kehendak Tuhan, dan bencana memang terkait faktor geografis. Namun pertanyaannya tahukah kita maksud dari bencana? Kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah kita sudah memahami apa itu Islam? Sudahkah kita muslim dan mukmin? Masihkah kita menindas orang lain? Masihkah kita tertawa diatas penderitaan orang? Bermegah-megah diatas kemiskinan.
Mengapa saudara-saudara kita di Merapi, Mentawai dan Wasior? Saya tidak tahu jawabannya, itu mungkin rahasia Allah semata. Namun, pasti ada tujuannya. Jika ingin berbaik sangka, mungkin mereka lebih disayang oleh Allah, hingga dipanggil terlebih dahulu, sehingga tidak perlu lagi menyaksikan penindasan selama berlarut-larut dan keruntuhan dunia yang semakin jelas. Apapun alasannya yang lebih penting kita doakan saudara-saudara kita agar diterima disisi Allah. Amin.
Rejeki dan musibah, keduanya adalah cobaan. Jadi jangan terlampau senang dengan rejeki dan jangan terlampau berduka dengan musibah. Keduanya hadir untuk mengingatkan. Apakah kita masih bersyukur dikala senang dan apakah kita masih ber-istighfar dikala sedih.
Silet dan kematian infotainment
Di masa kontemporer ini media adalah pusat informasi. Namun, pertanyaannya apakah informasi yang kita terima selalu dapat dipercaya atau tidak. Saat ini media di Indonesia sudah layaknya melodrama. Senang hal yang kontroversial. Berita yang disampaikan seringkali bukan gambaran secara penuh dan kadang didramatisir. Problem yang dapat timbul adalah penciptaan atmosfir yang berlebihan, membuat sesuatu yang tidak ada seolah-olah benar terjadi, atau sesuatu yang sebenarnya bukan masalah besar menjadi sebuah kepanikan masal.
Infotainment adalah satu jenis produk media yang memiliki peminat yang cukup signifikan di Indonesia. Berfokus pada informasi dunia hiburan, hingga hal populer yang terkini. Dampaknya cukup siginifikan di masyarakat. Kasus pemberitaan aktivitas vulkanik Merapi di silet (7/11) cukup membawa kepanikan massal, lantaran sebuah pernyataan yang cukup kontroversial:
“Puncak letusan Merapi kabarnya akan terjadi hari ini (7/11) hingga esok hari pada bulan baru yang jatuh pada tanggal 8 November. Ahli LAPAN selalu mencatat hampir semua letusan dan guncangan gempa muncul pada bulan baru. Lantas apa yang akan terjadi dengan Jogjakarta? Mungkinkah Jogjakarta, kota budaya yang elok akan tergolek lemah tak berdaya? Benarkah Jogja yang dalam banyak lagu digambarkan begitu indah akan berubah menjadi penuh malapetaka?”
Apa motifnya? Apakah demi kontroversi semata, media rela mengorbankan kepanikan massa? Apakah ini unjuk kebolehan meramal masa depan? Apakah bijak sebuah media populer untuk melakukan hal ini ditengah kepanikan? Apakah ada sebuah mekanisme kontrol sumber berita ataupun isi berita yang dilakukan media saat ini?
Walaupun pihak media sudah mengajukan permohonan maaf kepada seluruh penduduk Indonesia, dan warga Yogyakarta pada khususnya. Tapi membuat saya semakin sedih akan ketidakobjektifan media kita dalam memberitakan sesuatu. Terlalu drama! Maaf, tapi ini bukan telenovela! Lalu apakah kita masih membutuhkan media semacam ini yang isinya hanya membicarakan kejelekan orang dan membuat kontroversi. Masihkan kita percaya pada media kita? Masihkah kita perlu media, jika hanya memperburuk keadaan?
Sains Newton dan Einstein
(mungkin hal ini bukan keahlian saya, jadi saya tidak mau berbicara banyak …)
“As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain; and as far as they are certain, they do not refer to reality” Albert Einstein
Sains sempat, dan masih, menjadi sorotan utama dalam perkembangan peradaban manusia. Kita mendewakan sains untuk menggoyangkan kekuasaan absolut: Tuhan. Sains dipandang dari kacamata Newtonian science, adalah hal yang definite dan semua fenomena alam dapat dijelaskan dan diperkirakan, secara tepat oleh sains. Newton yakin apel pun pasti jatuh ke tanah.
Ketika Einstein menemukan teori relativitas, pandangan kita tentang sains berubah sama sekali. Semua hal itu relatif. Semua formula matematika itu tidak nyata, kalau itu nyata maka bukanlah formula matematika. Alam bukanlah ekuasi yang pasti dimana 1+1 = 2. Ada faktor lain, ada pengecualian. Dan kita tidak bisa memastikan pengecualian tersebut, kita hanya bisa memprediksi atau menspekulasi. Namun setepat apapun prediksi ataupun spekulasi, mereka hanyalah prediksi dan spekulasi. Mereka tidak nyata.
Saya beranggapan, sains tidak pernah bisa memprediksikan alam secara 100%, namun mampu hingga 99,99% tapi selalu ada 0,01% pengecualian yang tidak bisa di prediksi. Sisanya adalah kuasa Tuhan. Malah sebaliknya, mungkin manusia hanya bisa mampu (mungkin juga tidak sama sekali) memprediksi 0,01% dan sisanya kuasa Tuhan.
Lalu masihkah kita harus mendewakan sains kita saja dan melupakan agama?
Saya percaya keseimbangan. Jika sesuatu hal harus diimbangi dan dilengkapi oleh yang lain. Pada akhirnya seangkuh apapun manusia dengan ciptaannya, tidak akan pernah menyaingi Tuhan. Sayangnya Neon Genensis Evangelion itu memberi harapan palsu, kita (manusia) tidak bisa melawan kehendak Tuhan dengan segala ciptaan kita!
“Science without religion is lame. Religion without science is blind.” Albert Einstein
Epilog: monumen reruntuhan Merapi
Sudah hampir sebulan Merapi meletus. Meskipun asap merapi telah mereda, namun debunya telah merasuk paru-paru kita, menyesak dan membekas di hati kita. Reruntuhan merapi menjadi sebuah monumen, monumen kekalahan media, tereksposnya keruntuhan moralitas, dan berserah dirinya sains dan teknologi. Monumen peringatan yang tetulis diatasnya segala teguran terhadap kita.
Masihkah kita angkuh?
Masihkah kita angkuh pada kemajuan sains dan teknologi? Jika sebenarnya masih banyak perkara yang kita tidak tahu menahu di bumi yang telah kita dihuni selama ribuan tahun.
Masihkah kita angkuh akan sebuah kebohongan, manipulasi kebenaran? jika pada akhirnya cepat atau lambat, kebenaran akan terkuak, secara halus maupun brutal.
Masihkah kita angkuh akan kekayaan dan seberapa banyak uang yang kita rampas? jika pada akhirnya, semua akan terbakar dan musnah.
Pantaskah kita angkuh?
wallahualam bissawab
apa yang benar datang dari Allah. Dan semua yang salah datang dari saya.