Jakarta: dunia shopping mall

February 28th, 2011 § Leave a Comment

Oleh Ivan K. Nasution dan Rizki M. Supratman

Hanya ada satu tujuan dari arsitektur pusat perbelanjaan, yakni” merayakan aktivitas belanja”. Mewujudkan tempat paling menyenangkan, menarik dan heboh untuk tempat berbelanja. Arsitektur yang sepenuhnya mengabdi pada nilai-nilai konsumtif. (Suryono Herlambang, Pink Architecture)

Diskusi mengenai mall di dunia mungkin sudah jenuh, semua hal sudah diteorisasikan, semua aspek sudah terdeskripsikan dengan baik oleh para teoris Amerika, asal muasal tipologi ini lahir. Namun diskusi mengenai shopping mall di Indonesia baru saja dimulai, sebuah bab baru mengenai apakah hal ini merupakan manifestasi nyata ruang publik di Indonesia yang konon sedikit demi sedikit menghilang.

Evolusi shopping mall di Indonesia berkembang dengan pesat, secara luasan dan program. Dimulai dengan Sarinah pada tahun 1962, sebagai shopping mall pertama di Indonesia dengan luas kira-kira 5000 m2 area retail, hingga saat ini st. Moritz sebagai sebuah monumen evolusi mall, dengan luas area retail sekitar 450.000 m2 dilengkapi berbagai fasilitas ‘publik’ di dalamnya.

Optimisme ekonomi di Indonesia, yang memperbandingkan kondisi shopping mall di Asia Tenggara menunjukkan bahwa Indonesia masih kalah jauh dengan beberapa metropolis sekitarnya. Perbandingan jumlah mall kita hanya 1 berbanding 370 ribu jiwa, sedang di Bangkok  sudah mencapai 1 berbanding 172 ribu jiwa, masih banyak peluang untuk menambah area retail di Indonesia[1].

Lonjakan turisme ke Singapura yang dipenuhi oleh turis dari Indonesia beberapa tahun terakhir ini juga membuat ‘panas’ para pengusaha Indonesia. Total belanja turis Indonesia pada tahun 2003 sebesar 6 trilyun rupiah (Stevanus Ridwan[2], 2007) dan terus bertambah setiap tahun. Sebuah shopping mall manifesto pun terbentuk, Stevanus Ridwan berambisi untuk membuat Indonesia tidak kalah menarik sebagai tempat berbelanja selain Kuala Lumpur dan Singapura. Dengan membentuk kerjasama antara pemerintah dan pihak swasta: sepertu himbauan kepada pemerintah untuk menyelesaikan kemacetan Jakarta serta menurunkan pajak barang belanja serta mempromosikan turisme Jakarta[3].

Hal ini direspon oleh pemerintah Jakarta (2006) Sutiyoso berencana untuk membuat 100 mall baru. Dengan harapan pihak swasta dapat membawa fasilitas ‘publik’ kepada masyarakat tanpa harus mengeruk kocek dari pajak dan kantong pemerintah. Dengan ini dimulailah privatisasi ruang ‘publik’ di Indonesia.

Di sisi lain Wardah Hafid[4] bertanya, untuk siapakah mall-mall baru ini dibangun? Dari sekian banyak populasi Jakarta, hanya 500ribu orang yang mampu berbelanja di shopping mall[5].

Hal ini membuat kita bertanya, benarkah masih ada pangsa pasar untuk mall-mall yang baru? Benarkah mall adalah ruang ‘publik’ kita? Ruang ‘publik’ untuk siapa? Siapa yang diakomodasi di dalam mall? Sepenting itu kah pertumbuhan ekonomi dan kenaikan GDP, sehingga kita harus terus membangun mall dan mengorbankan ruang terbuka hijau dan bencana banjir terus melanda?

Mengapa kita harus seperti Singapura dan Kualalumpur? Mengapa beban Jakarta terus ditambah dengan pertambahan 11 shopping mall lagi tahun ini, belum cukup sesak kah Jakarta dengan 130 mall yang ada?

Keberadaan mall di ruang kota, tentunya memberikan kontribusi terhadap pembentukan kualitas ruangnya. Ia selalu diharapkan dapat memberikan stimulan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas sebuah kawasan, sebagai generator ekonomi! Atraksi yang mengundang orang untuk datang, berkomunikasi dan memberikan nilai baru terhadap kawasan tersebut. Di sisi lain visi untuk kemajuan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi tentang efek negatif dari pembangunan. Ketika luasan tanah di ruang kota digunakan untuk membangun mall, lahan tersebut memberikan kontribusi untuk meningkatan kemacetan, berkurangnya kemampuan daya serap air tanah, dan permasalahan kota lainnya.

Selain itu adanya shopping mall mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat kota. Secara sadar ataupun tidak, kita memilih untuk lebih banyak menghabisakan waktu di shopping mall, baik untuk berbelanja, makan, bersosialisasi atau hanya mencari hiburan. Berikut adalah ilustrasi yang umum terjadi di kehidupan berkeluarga kita.

“Yuk, hari ini kita ke shopping mall kata seorang ibu kepada anak perempuannya. Kemudian dia menjinjing tas hermes, tas dari gerai toko terkenal di dunia. Sang anak pun mengiyakan, sejenak kemudian, ibu tersebut menelpon suaminya, pa kita ketemu di mall ya, sambil makan siang, setelah itu ke kidzania, anak kita mau main di mall.” [6]

Apakah tidak ada alternatif lain untuk menghabiskan waktu selain di shopping mall? Apakah hal ini tidak melahirkan masyarakat yang konsumtif? Mall sudah menjadi lifestyle masyarakat Indonesia, pertanyaannya lifestyle kelas mana yang direpresentasikan? Apakah benar kota itu hanya milik kelas tertentu?

Mungkin shopping mall adalah manifestasi sebenar-benarnya Arsitektur Indonesia, seperti gated community dan rumah gedong. Arsitektur yang merespon individualisme, kapsularisasi dan konsumerisme.


[1] Mall Heaven, by Patung, Business & Economy, 30 November 2006

[2] Stevanus Ridwan adalah ketua asosiasi pusat perbelanjaan di Indonesia

[3] Bisnis Indonesia, Jakarta Post (by Tuti Sunario, Indonesia Digest) Copyright © 2006 Ministry of Culture and Tourism, Republic of Indonesia

[4] Wardah Hafid coordinator for Urban Poor Consortium, an Indonesian anti poverty group.

[5] http://www.iht.com/articles/2008/03/06/asia/jakarta.phpInternational Herald. TribunePoor displaced by Jakarta beautifi cation driveBy Peter GellingPublished: (March 6, 2008)

[6] Shopping mall: potensi atau perusak, Majalah ruang edisi #3, oleh Real Rich, 2010

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jakarta: dunia shopping mall at t h i n k.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 160 other followers