Re-thinking the space

September 27th, 2011 § Leave a Comment

Ruang (space) adalah suatu hal yang kompleks dan berlapis-lapis, yang tidak cukup pengertiannya jika kita mengambil hanya dari satu sudut pandang saja. (Jika boleh) Kami mengambil pengertian ruang secara fragmen.

Apa itu ruang dan bagaimanakah proses pembentukan ruang?

Jika boleh mengutip sedikit konsep (ruang) space dari Henri Lefebvre, filusuf Neo-Marxis Perancis, dalam bukunya The (social) Production of space (1974):

“(Social) space is a (social) product [...] the space thus produced also serves as a tool of thought and of action [...] in addition to being a means of production it is also a means of control, and hence of domination, of power.” [1]

Lefebvre berpendapat bahwa ruang adalah produk sosial, berdasarkan nilai-nilai maupun pemaknaan sosial. Dengan kata lain, masyarakat (society) membentuk ruang dengan nilai-nilai dan  pemaknaan tadi. Namun selanjutnya Lefebvre berkata bahwa produk sosial berupa ruang urban ini fundamental untuk me-reproduksi masyarakat. Ada relasi seperti ilustrasi telur dan ayam, apakah masyarakat yang mebentuk ruang atau ruang yang membentuk masyarakat?

Selanjutnya Lefebvre berargumen bahwa setiap masyarakat memiliki cara sendiri dalam memproduksi ruang, dan ruang yang terjadi yang cocok dengan keadan masyrakat tersebut. Bagaimana jika sebuah eksistensi sosial, yang mengklaim keberadaannya, memproduksi ruang yang tidak sesuai dengan masyarakatnya? Akan menjadi sebuah entitas yang janggal dan tidak akan bermakna ketika ruang yang tercipta tidak sesuai dengan masyarakat.

Change life! Change Society! These ideas lose completely their meaning without producing an appropriate space. A lesson to be learned from soviet constructivists from the 1920s and 30s, and of their failure, is that new social relations demand a new space, and vice-versa.” [2]

Ruang dapat bersifat insidental dan bebas.

Hannah Arendt, politikus-filusuf wantia berkebangsaan Jerman-Yahudi dalam bukunya berjudul The Human Condition (1958):

“…action and speech create a space between the participants which can find its proper location almost anytime anywhere…, the space where I appears to others as others appears to me…”[3]

Disini Arendt berusaha menegaskan ketika ada organisasi orang-orang yang bertindak (action) dan berbicara satu sama lain (speech) maka di manapun dia berada, kapanpun itu mereka akan berada di sebuah ruang (space) dimana kedudukan individu akan sejajar, kita di mata orang lain seperti kita memandang orang lain, dan masing-masing individu memiliki hak yang sama serta kebebasan berbicara yang setara. Ini kemudian memberi pemaknaan bahwa ruang dapat memberikan kebebasan bersuara serta kedudukan yang sama pada setiap individu. Freedom in space!

Manusia mendefinisikan sebuah batas-batas ke-ruang-an dengan jarak nyaman dirinya dengan orang lain. 

My (personal) Space (http://graphics8.nytimes.com/images/2006/11/16/fashion/space.2.650.jpg)

Sebuah studi yang dikembangkan oleh Edward T. Hall[4], mengenai jarak antar dua individu ketika berinteraksi.  Jarak tersebut akan berpengaruh kepada jenis interaksi, hubungan fisik, serta perubahan nada suara. Satuan terkecil proxemics adalah jarak intim (intimate distance – dengan jarak15-50 cm ), adalah ruang ketika kita memeluk, berbisik dan menyentuh seseorang. Akan berbeda ketika kita berbicara dengan orang yang baru dikenal atau dengan orang yang sama sekali asing, akan tercipta social space (jarak 1-3 meter).  Proxemics memberikan ide bagaimana manusia menyeleksi siapa yang dapat masuk kedalam territory-nya dan dengan siapa dia harus menjaga jarak.

Batas ke-ruang-an ini bisa saja bersinggungan dengan batas ke-ruang-an orang lain. Hal ini bisa bersifat konstruktif atau destruktif.

Israeli troops clashed with Palestinian gunmen, 15 April 2008 (http://www.monstersandcritics.com/news/middleeast/features/article_1400162.php/In_photos_Gaza_Strip_Conflict?page=3)

Street magician performing during Riverfest 2006 in downtown Troy, NY (http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Street_magician_in_Troy,_NY.jpg)

Berangkat dari teori “distraction”, yang dipopuler kan oleh Walter Benjamin (1969)[5]. Secara harfiah “distraction” berarti menarik perhatian (to draw attention), dan “distraction” merupakan rangkaian kejadian (event) yang singular (capture and escape), seorang pesulap dapat menghilangkan sebuah objek dengan melakukan dua gerakan sekaligus, satu gerakan untuk mengalihkan penonton dan gerakan lain untuk “menghapus” objek[6]. ‘distraction’ dalam sebuah event bukan berarti karena kelangkan atau keunikan yang mengalihkan kita, tetapi sebuah event karena keunikan dan kelangkaan tersebut yang memecahkan flow.

Berangkat dari konsepsi tersebut ketika perhatian seseorang teralihkan, terjadi ketidakstabilan ruang, yang dapat membawa kepada konstruksi ruang maupun destruksi ruang. Destruksi terjadi ketika ‘distraction’ dianggap sebagai sebuah hal yang mengancam dirinya dan harus dia lawan atau hindari, ruang yang terjadi antara subjek dan objek ‘distraction’ penuh dengan konflik dan intervensi. Lain halnya ketika ‘distraction’ menjadi sesuatu yang menarik, tidak berbahaya, dan menyenangkan. Seperti menonton sulap di jalanan, akan tercipta ruang yang konstruktif diantara sesame penonton, serta antara penonton dan pesulap.

Ruang berbentuk fisik dan konkret. Komunikasi ruang.

Klimaks dari sebuah ruang adalah manifestasinya ke dalam bentuk fisik yang kasat mata, serta dapat dicerna oleh panca indera. Apakah ini bentuk eksistensi ruang yang sempurna? Ruang dalam persepsi ini sangat didukung oleh seorang arsitek dengan menyatakan bahwa aspek terpenting dalam arsitektur adalah pengalaman ruang. Dan ini dapat di lukis dengan permainan bidang, garis, masa, permainan gelap-terang, warna atau bayangan.

Ruang juga dapat menjadi sebuah sarana politis atau propaganda. Dalam bangunan gereja romanesk pada abad pertengahan, ruang diciptakan dengan suasana mencekam, skala monumental, minim cahaya, megah. Seolah-olah sebagai propaganda religius yang melebih-lebihkan kekecilan eksistensi manusia, bahwa manusia takut kepada Tuhan, dan gereja adalah konstitusi terbesar di masyarakat, segala kehidupan diatur oleh gereja.

Holocaust tower, German, Daniel Libeskind (http://www.smudo.org/blog/archives/2007/09/13/001002.php)

Ekstasi dan ruang

Dengan kondisi sekarang, yang serba kontemporer, seolah menjadi ekstasi yang membuat kita untuk selalu merefl eksikan apa yang terjadi di masa lalu, kemudian berusaha mencari mendefi nisikan kembali atau melihat hal tersebut dengan makna yang baru. Kemajemukan dari makna ruang dan perkembangannnya juga berusaha mencari defi nisi baru,persepsi baru, nilai-nilai baru, pemaknaan baru atau pengalaman yang baru.

Apakah makna ruang pada masa kini? Bagaimanakah eksistensinya dalam masyarakat kontemporer? Adakah pergeseran makna ruang?

Adakah perbedaan makna ruang antara seseorang yang normal dengan seseorang yang menderita disleksia yang sejak lahir memiliki cacat persepsi ruang?

Bagaimana arti ruang bagi orang-orang yang termarjinalkan, miskin misalnya?

Apakah kita masih menyadari adanya eksistensi ruang dalam hidup, karena banyaknya ‘distraction’?

Apakah arti ruang bagi Negara-negara bekas jajahan (post-colonial) berbeda dengan Negara lainnya?

Masih perlukah kita mendefinisikan (atau me-re-definisikan) ruang, atau ruang sudah tidak menjadi suatu yang substansial lagi dalam kehidupan kita yang tergantikan oleh kesibukan sehari-hari?

(diterbitkan sebagai pengantar untuk majalah ruang edisi 1: apa itu ruang, 2010 – http://membacaruang.com)


[1] Lefebvre, Henri, The Production of Space, Blackwell 1991, ISBN 0631181776. p. 26

[2] Lefebvre, Henri, The Production of Space, Blackwell 1991, ISBN 0631181776. p. 59

[3] Arendt, Hannah. The Human Condition, University of Chicago, 1958, p.100

[4] Hall, Edward T. (1966). The Hidden Dimension. Anchor Books. ISBN 0-385-08476-5.

[5] Benjamin, Walter (1969). he Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction.

[6] Bogard, William. (2000). Distraction and digital culture. www.ctheory.net/articles.aspx?id=131

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Re-thinking the space at t h i n k.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 160 other followers