Re-thinking the space

Tuesday, September 27, 2011 § Leave a comment

Ruang (space) adalah suatu hal yang kompleks dan berlapis-lapis, yang tidak cukup pengertiannya jika kita mengambil hanya dari satu sudut pandang saja. (Jika boleh) Kami mengambil pengertian ruang secara fragmen.

Apa itu ruang dan bagaimanakah proses pembentukan ruang?

Jika boleh mengutip sedikit konsep (ruang) space dari Henri Lefebvre, filusuf Neo-Marxis Perancis, dalam bukunya The (social) Production of space (1974):

“(Social) space is a (social) product […] the space thus produced also serves as a tool of thought and of action […] in addition to being a means of production it is also a means of control, and hence of domination, of power.” [1]

Lefebvre berpendapat bahwa ruang adalah produk sosial, berdasarkan nilai-nilai maupun pemaknaan sosial. Dengan kata lain, masyarakat (society) membentuk ruang dengan nilai-nilai dan  pemaknaan tadi. Namun selanjutnya Lefebvre berkata bahwa produk sosial berupa ruang urban ini fundamental untuk me-reproduksi masyarakat. Ada relasi seperti ilustrasi telur dan ayam, apakah masyarakat yang mebentuk ruang atau ruang yang membentuk masyarakat?

Selanjutnya Lefebvre berargumen bahwa setiap masyarakat memiliki cara sendiri dalam memproduksi ruang, dan ruang yang terjadi yang cocok dengan keadan masyrakat tersebut. Bagaimana jika sebuah eksistensi sosial, yang mengklaim keberadaannya, memproduksi ruang yang tidak sesuai dengan masyarakatnya? Akan menjadi sebuah entitas yang janggal dan tidak akan bermakna ketika ruang yang tercipta tidak sesuai dengan masyarakat.

Change life! Change Society! These ideas lose completely their meaning without producing an appropriate space. A lesson to be learned from soviet constructivists from the 1920s and 30s, and of their failure, is that new social relations demand a new space, and vice-versa.” [2]

Ruang dapat bersifat insidental dan bebas.

Hannah Arendt, politikus-filusuf wantia berkebangsaan Jerman-Yahudi dalam bukunya berjudul The Human Condition (1958):

“…action and speech create a space between the participants which can find its proper location almost anytime anywhere…, the space where I appears to others as others appears to me…”[3]

Disini Arendt berusaha menegaskan ketika ada organisasi orang-orang yang bertindak (action) dan berbicara satu sama lain (speech) maka di manapun dia berada, kapanpun itu mereka akan berada di sebuah ruang (space) dimana kedudukan individu akan sejajar, kita di mata orang lain seperti kita memandang orang lain, dan masing-masing individu memiliki hak yang sama serta kebebasan berbicara yang setara. Ini kemudian memberi pemaknaan bahwa ruang dapat memberikan kebebasan bersuara serta kedudukan yang sama pada setiap individu. Freedom in space!

Manusia mendefinisikan sebuah batas-batas ke-ruang-an dengan jarak nyaman dirinya dengan orang lain. 

Sebuah studi yang dikembangkan oleh Edward T. Hall[4], mengenai jarak antar dua individu ketika berinteraksi.  Jarak tersebut akan berpengaruh kepada jenis interaksi, hubungan fisik, serta perubahan nada suara. Satuan terkecil proxemics adalah jarak intim (intimate distance – dengan jarak15-50 cm ), adalah ruang ketika kita memeluk, berbisik dan menyentuh seseorang. Akan berbeda ketika kita berbicara dengan orang yang baru dikenal atau dengan orang yang sama sekali asing, akan tercipta social space (jarak 1-3 meter).  Proxemics memberikan ide bagaimana manusia menyeleksi siapa yang dapat masuk kedalam territory-nya dan dengan siapa dia harus menjaga jarak.

Batas ke-ruang-an ini bisa saja bersinggungan dengan batas ke-ruang-an orang lain. Hal ini bisa bersifat konstruktif atau destruktif.

Street magician performing during Riverfest 2006 in downtown Troy, NY (http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Street_magician_in_Troy,_NY.jpg)

Berangkat dari teori “distraction”, yang dipopuler kan oleh Walter Benjamin (1969)[5]. Secara harfiah “distraction” berarti menarik perhatian (to draw attention), dan “distraction” merupakan rangkaian kejadian (event) yang singular (capture and escape), seorang pesulap dapat menghilangkan sebuah objek dengan melakukan dua gerakan sekaligus, satu gerakan untuk mengalihkan penonton dan gerakan lain untuk “menghapus” objek[6]. ‘distraction’ dalam sebuah event bukan berarti karena kelangkan atau keunikan yang mengalihkan kita, tetapi sebuah event karena keunikan dan kelangkaan tersebut yang memecahkan flow.

Berangkat dari konsepsi tersebut ketika perhatian seseorang teralihkan, terjadi ketidakstabilan ruang, yang dapat membawa kepada konstruksi ruang maupun destruksi ruang. Destruksi terjadi ketika ‘distraction’ dianggap sebagai sebuah hal yang mengancam dirinya dan harus dia lawan atau hindari, ruang yang terjadi antara subjek dan objek ‘distraction’ penuh dengan konflik dan intervensi. Lain halnya ketika ‘distraction’ menjadi sesuatu yang menarik, tidak berbahaya, dan menyenangkan. Seperti menonton sulap di jalanan, akan tercipta ruang yang konstruktif diantara sesame penonton, serta antara penonton dan pesulap.

Ruang berbentuk fisik dan konkret. Komunikasi ruang.

Klimaks dari sebuah ruang adalah manifestasinya ke dalam bentuk fisik yang kasat mata, serta dapat dicerna oleh panca indera. Apakah ini bentuk eksistensi ruang yang sempurna? Ruang dalam persepsi ini sangat didukung oleh seorang arsitek dengan menyatakan bahwa aspek terpenting dalam arsitektur adalah pengalaman ruang. Dan ini dapat di lukis dengan permainan bidang, garis, masa, permainan gelap-terang, warna atau bayangan.

Ruang juga dapat menjadi sebuah sarana politis atau propaganda. Dalam bangunan gereja romanesk pada abad pertengahan, ruang diciptakan dengan suasana mencekam, skala monumental, minim cahaya, megah. Seolah-olah sebagai propaganda religius yang melebih-lebihkan kekecilan eksistensi manusia, bahwa manusia takut kepada Tuhan, dan gereja adalah konstitusi terbesar di masyarakat, segala kehidupan diatur oleh gereja.

Holocaust tower, German, Daniel Libeskind (http://www.smudo.org/blog/archives/2007/09/13/001002.php)

Ekstasi dan ruang

Dengan kondisi sekarang, yang serba kontemporer, seolah menjadi ekstasi yang membuat kita untuk selalu merefl eksikan apa yang terjadi di masa lalu, kemudian berusaha mencari mendefi nisikan kembali atau melihat hal tersebut dengan makna yang baru. Kemajemukan dari makna ruang dan perkembangannnya juga berusaha mencari defi nisi baru,persepsi baru, nilai-nilai baru, pemaknaan baru atau pengalaman yang baru.

Apakah makna ruang pada masa kini? Bagaimanakah eksistensinya dalam masyarakat kontemporer? Adakah pergeseran makna ruang?

Adakah perbedaan makna ruang antara seseorang yang normal dengan seseorang yang menderita disleksia yang sejak lahir memiliki cacat persepsi ruang?

Bagaimana arti ruang bagi orang-orang yang termarjinalkan, miskin misalnya?

Apakah kita masih menyadari adanya eksistensi ruang dalam hidup, karena banyaknya ‘distraction’?

Apakah arti ruang bagi Negara-negara bekas jajahan (post-colonial) berbeda dengan Negara lainnya?

Masih perlukah kita mendefinisikan (atau me-re-definisikan) ruang, atau ruang sudah tidak menjadi suatu yang substansial lagi dalam kehidupan kita yang tergantikan oleh kesibukan sehari-hari?

(diterbitkan sebagai pengantar untuk majalah ruang edisi 1: apa itu ruang, 2010 – http://membacaruang.com)


[1] Lefebvre, Henri, The Production of Space, Blackwell 1991, ISBN 0631181776. p. 26

[2] Lefebvre, Henri, The Production of Space, Blackwell 1991, ISBN 0631181776. p. 59

[3] Arendt, Hannah. The Human Condition, University of Chicago, 1958, p.100

[4] Hall, Edward T. (1966). The Hidden Dimension. Anchor Books. ISBN 0-385-08476-5.

[5] Benjamin, Walter (1969). he Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction.

[6] Bogard, William. (2000). Distraction and digital culture. http://www.ctheory.net/articles.aspx?id=131

Advertisements

Jakarta: dunia shopping mall

Monday, February 28, 2011 § Leave a comment

Oleh Ivan K. Nasution dan Rizki M. Supratman

Hanya ada satu tujuan dari arsitektur pusat perbelanjaan, yakni” merayakan aktivitas belanja”. Mewujudkan tempat paling menyenangkan, menarik dan heboh untuk tempat berbelanja. Arsitektur yang sepenuhnya mengabdi pada nilai-nilai konsumtif. (Suryono Herlambang, Pink Architecture)

Diskusi mengenai mall di dunia mungkin sudah jenuh, semua hal sudah diteorisasikan, semua aspek sudah terdeskripsikan dengan baik oleh para teoris Amerika, asal muasal tipologi ini lahir. Namun diskusi mengenai shopping mall di Indonesia baru saja dimulai, sebuah bab baru mengenai apakah hal ini merupakan manifestasi nyata ruang publik di Indonesia yang konon sedikit demi sedikit menghilang.

Evolusi shopping mall di Indonesia berkembang dengan pesat, secara luasan dan program. Dimulai dengan Sarinah pada tahun 1962, sebagai shopping mall pertama di Indonesia dengan luas kira-kira 5000 m2 area retail, hingga saat ini st. Moritz sebagai sebuah monumen evolusi mall, dengan luas area retail sekitar 450.000 m2 dilengkapi berbagai fasilitas ‘publik’ di dalamnya.

Optimisme ekonomi di Indonesia, yang memperbandingkan kondisi shopping mall di Asia Tenggara menunjukkan bahwa Indonesia masih kalah jauh dengan beberapa metropolis sekitarnya. Perbandingan jumlah mall kita hanya 1 berbanding 370 ribu jiwa, sedang di Bangkok  sudah mencapai 1 berbanding 172 ribu jiwa, masih banyak peluang untuk menambah area retail di Indonesia[1].

Lonjakan turisme ke Singapura yang dipenuhi oleh turis dari Indonesia beberapa tahun terakhir ini juga membuat ‘panas’ para pengusaha Indonesia. Total belanja turis Indonesia pada tahun 2003 sebesar 6 trilyun rupiah (Stevanus Ridwan[2], 2007) dan terus bertambah setiap tahun. Sebuah shopping mall manifesto pun terbentuk, Stevanus Ridwan berambisi untuk membuat Indonesia tidak kalah menarik sebagai tempat berbelanja selain Kuala Lumpur dan Singapura. Dengan membentuk kerjasama antara pemerintah dan pihak swasta: sepertu himbauan kepada pemerintah untuk menyelesaikan kemacetan Jakarta serta menurunkan pajak barang belanja serta mempromosikan turisme Jakarta[3].

Hal ini direspon oleh pemerintah Jakarta (2006) Sutiyoso berencana untuk membuat 100 mall baru. Dengan harapan pihak swasta dapat membawa fasilitas ‘publik’ kepada masyarakat tanpa harus mengeruk kocek dari pajak dan kantong pemerintah. Dengan ini dimulailah privatisasi ruang ‘publik’ di Indonesia.

Di sisi lain Wardah Hafid[4] bertanya, untuk siapakah mall-mall baru ini dibangun? Dari sekian banyak populasi Jakarta, hanya 500ribu orang yang mampu berbelanja di shopping mall[5].

Hal ini membuat kita bertanya, benarkah masih ada pangsa pasar untuk mall-mall yang baru? Benarkah mall adalah ruang ‘publik’ kita? Ruang ‘publik’ untuk siapa? Siapa yang diakomodasi di dalam mall? Sepenting itu kah pertumbuhan ekonomi dan kenaikan GDP, sehingga kita harus terus membangun mall dan mengorbankan ruang terbuka hijau dan bencana banjir terus melanda?

Mengapa kita harus seperti Singapura dan Kualalumpur? Mengapa beban Jakarta terus ditambah dengan pertambahan 11 shopping mall lagi tahun ini, belum cukup sesak kah Jakarta dengan 130 mall yang ada?

Keberadaan mall di ruang kota, tentunya memberikan kontribusi terhadap pembentukan kualitas ruangnya. Ia selalu diharapkan dapat memberikan stimulan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas sebuah kawasan, sebagai generator ekonomi! Atraksi yang mengundang orang untuk datang, berkomunikasi dan memberikan nilai baru terhadap kawasan tersebut. Di sisi lain visi untuk kemajuan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi tentang efek negatif dari pembangunan. Ketika luasan tanah di ruang kota digunakan untuk membangun mall, lahan tersebut memberikan kontribusi untuk meningkatan kemacetan, berkurangnya kemampuan daya serap air tanah, dan permasalahan kota lainnya.

Selain itu adanya shopping mall mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat kota. Secara sadar ataupun tidak, kita memilih untuk lebih banyak menghabisakan waktu di shopping mall, baik untuk berbelanja, makan, bersosialisasi atau hanya mencari hiburan. Berikut adalah ilustrasi yang umum terjadi di kehidupan berkeluarga kita.

“Yuk, hari ini kita ke shopping mall kata seorang ibu kepada anak perempuannya. Kemudian dia menjinjing tas hermes, tas dari gerai toko terkenal di dunia. Sang anak pun mengiyakan, sejenak kemudian, ibu tersebut menelpon suaminya, pa kita ketemu di mall ya, sambil makan siang, setelah itu ke kidzania, anak kita mau main di mall.” [6]

Apakah tidak ada alternatif lain untuk menghabiskan waktu selain di shopping mall? Apakah hal ini tidak melahirkan masyarakat yang konsumtif? Mall sudah menjadi lifestyle masyarakat Indonesia, pertanyaannya lifestyle kelas mana yang direpresentasikan? Apakah benar kota itu hanya milik kelas tertentu?

Mungkin shopping mall adalah manifestasi sebenar-benarnya Arsitektur Indonesia, seperti gated community dan rumah gedong. Arsitektur yang merespon individualisme, kapsularisasi dan konsumerisme.


[1] Mall Heaven, by Patung, Business & Economy, 30 November 2006

[2] Stevanus Ridwan adalah ketua asosiasi pusat perbelanjaan di Indonesia

[3] Bisnis Indonesia, Jakarta Post (by Tuti Sunario, Indonesia Digest) Copyright © 2006 Ministry of Culture and Tourism, Republic of Indonesia

[4] Wardah Hafid coordinator for Urban Poor Consortium, an Indonesian anti poverty group.

[5] http://www.iht.com/articles/2008/03/06/asia/jakarta.phpInternational Herald. TribunePoor displaced by Jakarta beautifi cation driveBy Peter GellingPublished: (March 6, 2008)

[6] Shopping mall: potensi atau perusak, Majalah ruang edisi #3, oleh Real Rich, 2010

Marginalized space as a hope

Saturday, November 27, 2010 § Leave a comment

Tulisan ini dibuat sebagai pengantar pameran seorang sahabat, saudara dan teman diskusi, pasangan suami istri Indrawan dan Widyastuti Prabaharyaka, yang dengan nekatnya memamerkan karya foto, sketsa, tulisan dan perasaan melaluiInsulinde (http://www.facebook.com/pages/Insulinde/118542941539452). sebuah perjalanan, pencarian dan kenekadan mereka berbulan madu keliling ke berbagai slum di Asia:

“kami keluar dari pekerjaan, terus nanti mau honeymoon backpacking ke daerah-daerah slum di Asia Tenggara, dan mau membuat sesuatu dari itu..”

lengkapnya kunjungi pameran mereka di:

The Marginalized (27 November – 19 Desember 2010)

Indrawan Prabaharyaka & Widyastuti Prabaharyaka

ViaVia Alternative Art Space, Jogjakarta

  1. Globalization and Modernism

Modernisme telah sukses merubah masyarakat kita, pandangan, anggapan, gaya hidup, nilai kultur bahkan moral serta apa yang menjadi paradigma kehidupan ideal. Tradisional adalah usang, masa lampau yang harus ditinggalkan, tidak relevan, tidak mencerminkan kekinian, bukan generasi ‘kita’, ujar modernisme. Modernisme membawa Seagram buildingIKEA dan H&MInternational style, secara arsitektur ataupun sosial dan ekonomi, yang berakibat globalisasi dan ke-generic-an gaya hidup, bahasa arsitektur, persepsi keindahan, pemikiran, konsumsi berlebih, produksi massal, idealisme, kultur, sosial dan ekonomi. Modernisasi adalah juru selamat.

Metropolis Asia, atau setidaknya Jakarta dalam anggapan penulis, dibangun oleh kegilaan terhadap modernisme dan sahabatnya, kapitalisme, yang terburu-buru dan instan. Pengagungan dan pemujaan serentak terhadap modernisme telah membentuk struktur kehidupan kota kita serta lapisan sosialnya. Urbanisasi (berasal dari kosa kata Romawi, urbs[1]) massal, memicu perluasan foot printkota dengan dengan cepat, sehingga kota tidak lagi dapat dideskripsikan dengan arsitektur, tapi hanyalah agglomerasi massa terbangun.  Bahkan terlalu pesatnya agglomerasi itu, mengakibatkan kota meluas dan meraup desa (baca: kampung) disekitarnya, dan menjadikannya bagian dari kota, kampung kota. Seketikakampung terperangkap ditengah-tengah kota, diantara menara-menara pencakar langit. Peranannya sangat vital bagi kota, hampir lebih dari setengah penduduk Jakarta bermukim di kampung kota, namun seringkali tidak dilibatkan atau tidak dipertimbangkan sebagai salah satu stake holder dalam pengembangan kota. Kota tidak tertarik kepada kaum, tempat, komunitas, yang ter-marginal ini.Kampung dimarginalkan, terpinggirkan, tetap dalam status center and periphery, bukan secara letak geografis, namun dari segi keterlibatannya dalam mengambil keputusan terhadap perkembangan kota. Layaknya kolonialisme dengan bentukan baru, tidak lagi penjajahan secara fisik, tapi secara mental.

2. Emergence of Marginalized space

Margin the edge or border of something[2].

Berada dipinggir, adalah sebuah area abu-abu (tidak dapat terurai menjadi hitam dan putih lagi), antara terlibat dan tidak. Disatu sisi bagian dari kehidupan kota, namun disisi lain perkembangan kota tidak ditujukan bagi yang terpinggirkan.Marginal seringkali diasosiasikan, setidaknya dalam persepsi penulis, dengan kondisi kehidupan yang buruk, dekat dengan kemiskinan. Terpinggirkan tidak berarti dalam keadaan yang miskin, apakah miskin itu hanya dapat dinilai berdasarkan angka dan statistik. Kembali modernisme telah mengkonstruksi definsi miskin dan kaya dalam persepsi kita dalam bantuk angka, tanpa moral judgement. Miskin dideskripsikan dengan pendapatan dibawah ambang batas rata-rata, terlalu scientific.

Insulade berusaha mengembalikan marginal makna kepada asalnya dan, dapat dikatakan, memberi makna baru kepada marginal, atau lebih ambisius lagi, menetralkan kata marginalInsulade berisi kritik sosial yang cerdas akan sebuah bentuk lain dari masyarakat atau malah gaya hidup. Ditengah-tengah pengucilan kaum marginal oleh pertumbuhan kota, mereka mampu memanfaatkan apapun (secara literal dan metafora) untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Dalam bahasa inggris disebut resilient. Survival hanya sebagian aspek. Mereka beradaptasi dengan konsekuensi catastrophy yang ada, dan berusaha melenting untuk mencari titik kesetimbangan untuk memenuhi kebutuhan mereka, dari kebutuhan dasar hingga rekreasi. Seperti yang jelas diilustrasikan oleh pameran ini, secara angka mereka terpinggirkan dan miskin, tapi punya banyak cara untuk memanfaatkan apa yang ada dan tidak menerima segala hal dengan begitu saja. Sebuah kamar 2mx1m yang menjadi ruang produksi anyaman disiang hari dan ruang istirahat dimalam hari; gang kota yang sempit namun memacu imajinasi lahir anak-anak untuk menemukan permainan baru; tumpukan sampah yang dijadikan bukit-bukitan tempat berlarian. Sebuah intelejensi spasial lahir. Kesadaran ruangmarginal.

3. Epilog: Escaping Marginal

Marginal dapat diasosiasikan dengan minoritas, tidak harus dengan angka pendapatan namun dapat berarti alienasi kultural, seperti yang saya alami sebagai pelajar Indonesia dan muslim yang menjadi minoritas di Eropa. Saya termarginalkan secara kultural, bahkan secara personal. Jelas sebagai seorang muslim di ruang publik Eropa bukanlah lahan yang cukup ramah.

Eropa jauh dari suara adzan yang bersahut-sahutan setiap seperlima hari, Ramadhan di eropa, hampir seperti hari-hari biasa, wanita berpakaian seadanya, diskotik – bar penuh setiap akhir pekan dengan party, bir seolah teh botol, dan sulit sekali mencari masjid sedangkan di Tanah air mushalla dan masjid ada disetiap sudut kota, ada keterbatasan di ruang publik akibat prejudis dan generalisasi terhadap fundamentalis.  Ini adalah kultur, tradisi, ruang, yang normatif bagi konteks Eropa, namun meng-alienasi saya sebagai pelajar, orang timur dan muslim. Ruang kota tidak lagi familiar. Proses marginalisasi dapat diakibatkan oleh kultur.

Namun kembali kepada hukum kesetimbangan, dimana resiliansi memicu tumbuhnya ruang-ruang marginal. Kami mengapropriasi ruang apartemen menjadi masjid kami. Ruang sholat kami bentangkan di basement sekolah, diatas kereta yang melaju, di tempat duduk taman kota, hingga keadaan terkstrim di dalam ruang bioskop yang sedang menayangkan film aksi. Tanpa moral judgement baik atau buruk, etis atau tidak, atau yang lebih transedental permasalahan pahala atau dosa. Kesadaran ruang marginal hadir sebagai benteng resiliansi ditengah marginalisasi.

Marginal space could offer, in Foucalut terms, a Heterotopias. A space for retreat. A sanctuary. A space to counter privatised capitalistic public space. There’s a hope.


[1] Agglomeration of built mass

[2] The Oxford English dictionary

Refleksi di reruntuhan Merapi

Saturday, November 27, 2010 § Leave a comment

Bismillahirrahmanirrahim

Dan saya berdiri di persimpangan religi, intelektual dan moralitas…

Dan saya berucap sebagai seorang muslim, seorang pembelajar, dan pecinta kebenaran…

Seobjektif apapun ini, pastilah sangat subjektif…

Bukan, ini bukan hal yang scientific, hanyalah empiric semata…

Duka yang sedalam-dalamnya kepada saudara-saudara kita…

Merapi, Mentawai, Wasior…

Bencana yang melanda tanah air kita secara bertubi-tubi membuat saya duduk dan berpikir mengenai banyak hal, hal yang mungkin saja tidak penting, namun setidaknya ini yang saya percaya. Dimulai dari seliweran pernyataan dari beberapa pihak: politisi, sahabat, pemuka agama hingga media massa mengenai hal yang menimpa tanah air kita membuat saya tergerak untuk sekedar refleksi untuk kepentingan pribadi.

 

Negara Islam dan bencana?

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu(Muhammad) menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (An Nisa:79)

Teman saya berkata: “Mengapa bencana terjadi di Indonesia yang terkenal Negara muslim terbesar di dunia? Mengapa tidak terjadi di Eropa, atau bahkan Amsterdam, dimana pusat kemaksiatan terjadi?”

Tunggu dulu. Sebelum kita menghakimi seseuatu, alangkah baiknya kita berpikir dua kali, bahkan tiga kali, dengan jernih. Walaupun kita adalah Negara dengan populasi islam terbesar di dunia, namun kita juga salah satu Negara ter-korup di dunia. Walaupun kita adalah Negara demokrasi, namun masih banyak penindasan dimana-mana. Yang pintar membodohi yang lemah, dan terus membodohi dan menindas. Sekarang korupsi bukanlah sebuah aib namun sebuah prestasi. Dan korupsi juga menjadi sebuah kultur, dari hal terkecil hingga memakan uang Negara. Apa yang salah dengan Negara kita? Apa perlu lagi ditanya? Dalam hal ini bukan saya membela Eropa dengan segala kemaksiatannya, dan bukanlah dosa yang satu lebih ringan dari yang lain. Namun ingat:

“…Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya..”(Al-Kahfi : 17)

Mungkin ini sebuah peringatan. Ada yang salah dengan negara kita. Jadi, kalau kita di beri peringatan, maka segeralah bertaubat. Jika kita ingin disesatkan, maka semakin kita akan ditutup pintu hatinya dan dibiarkan begitu saja. Jadi populasi Islam bukanlah indikasi. Dan tidak ada hubungannya Islam dan bencana. Bencana memang kehendak Tuhan, dan bencana memang terkait faktor geografis. Namun pertanyaannya tahukah kita maksud dari bencana? Kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah kita sudah memahami apa itu Islam? Sudahkah kita muslim dan mukmin? Masihkah kita menindas orang lain? Masihkah kita tertawa diatas penderitaan orang? Bermegah-megah diatas kemiskinan.

Mengapa saudara-saudara kita di Merapi, Mentawai dan Wasior? Saya tidak tahu jawabannya, itu mungkin rahasia Allah semata. Namun, pasti ada tujuannya. Jika ingin berbaik sangka, mungkin mereka lebih disayang oleh Allah, hingga dipanggil terlebih dahulu, sehingga tidak perlu lagi menyaksikan penindasan selama berlarut-larut dan keruntuhan dunia yang semakin jelas. Apapun alasannya yang lebih penting kita doakan saudara-saudara kita agar diterima disisi Allah. Amin.

Rejeki dan musibah, keduanya adalah cobaan. Jadi jangan terlampau senang dengan rejeki dan jangan terlampau berduka dengan musibah. Keduanya hadir untuk mengingatkan. Apakah kita masih bersyukur dikala senang dan apakah kita masih ber-istighfar dikala sedih.

 

Silet dan kematian infotainment

Di masa kontemporer ini media adalah pusat informasi. Namun, pertanyaannya apakah informasi yang kita terima selalu dapat dipercaya atau tidak. Saat ini media di Indonesia sudah layaknya melodrama. Senang hal yang kontroversial. Berita yang disampaikan seringkali bukan gambaran secara penuh dan kadang didramatisir. Problem yang dapat timbul adalah penciptaan atmosfir yang berlebihan, membuat sesuatu yang tidak ada seolah-olah benar terjadi, atau sesuatu yang sebenarnya bukan masalah besar menjadi sebuah kepanikan masal.

Infotainment adalah satu jenis produk media yang memiliki peminat yang cukup signifikan di Indonesia. Berfokus pada informasi dunia hiburan, hingga hal populer yang terkini. Dampaknya cukup siginifikan di masyarakat. Kasus pemberitaan aktivitas vulkanik Merapi di silet (7/11) cukup membawa kepanikan massal, lantaran sebuah pernyataan yang cukup kontroversial:

“Puncak letusan Merapi kabarnya akan terjadi hari ini (7/11) hingga esok hari pada bulan baru yang jatuh pada tanggal 8 November. Ahli LAPAN selalu mencatat hampir semua letusan dan guncangan gempa muncul pada bulan baru. Lantas apa yang akan terjadi dengan Jogjakarta? Mungkinkah Jogjakarta, kota budaya yang elok akan tergolek lemah tak berdaya? Benarkah Jogja yang dalam banyak lagu digambarkan begitu indah akan berubah menjadi penuh malapetaka?”

Apa motifnya? Apakah demi kontroversi semata, media rela mengorbankan kepanikan massa? Apakah ini unjuk kebolehan meramal masa depan? Apakah bijak sebuah media populer untuk melakukan hal ini ditengah kepanikan? Apakah ada sebuah mekanisme kontrol sumber berita ataupun isi berita yang dilakukan media saat ini?

Walaupun pihak media sudah mengajukan permohonan maaf kepada seluruh penduduk Indonesia, dan warga Yogyakarta pada khususnya. Tapi membuat saya semakin sedih akan ketidakobjektifan media kita dalam memberitakan sesuatu. Terlalu drama! Maaf, tapi ini bukan telenovela! Lalu apakah kita masih membutuhkan media semacam ini yang isinya hanya membicarakan kejelekan orang dan membuat kontroversi. Masihkan kita percaya pada media kita? Masihkah kita perlu media, jika hanya memperburuk keadaan?

 

Sains Newton dan Einstein

(mungkin hal ini bukan keahlian saya, jadi saya tidak mau berbicara banyak …)

 

As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain; and as far as they are certain, they do not refer to reality” Albert Einstein

Sains sempat, dan masih, menjadi sorotan utama dalam perkembangan peradaban manusia. Kita mendewakan sains untuk menggoyangkan kekuasaan absolut: Tuhan. Sains dipandang dari kacamata Newtonian science, adalah hal yang definite dan semua fenomena alam dapat dijelaskan dan diperkirakan, secara tepat oleh sains. Newton yakin apel pun pasti jatuh ke tanah.

Ketika Einstein menemukan teori relativitas, pandangan kita tentang sains berubah sama sekali. Semua hal itu relatif. Semua formula matematika itu tidak nyata, kalau itu nyata maka bukanlah formula matematika. Alam bukanlah ekuasi yang pasti dimana 1+1 = 2. Ada faktor lain, ada pengecualian. Dan kita tidak bisa memastikan pengecualian tersebut, kita hanya bisa memprediksi atau menspekulasi. Namun setepat apapun prediksi ataupun spekulasi, mereka hanyalah prediksi dan spekulasi. Mereka tidak nyata.

Saya beranggapan, sains tidak pernah bisa memprediksikan alam secara 100%, namun mampu hingga 99,99% tapi selalu ada 0,01% pengecualian yang tidak bisa di prediksi. Sisanya adalah kuasa Tuhan. Malah sebaliknya, mungkin manusia hanya bisa mampu (mungkin juga tidak sama sekali) memprediksi 0,01% dan sisanya kuasa Tuhan.

Lalu masihkah kita harus mendewakan sains kita saja dan melupakan agama?

Saya percaya keseimbangan. Jika sesuatu hal harus diimbangi dan dilengkapi oleh yang lain. Pada akhirnya seangkuh apapun manusia dengan ciptaannya, tidak akan pernah menyaingi Tuhan. Sayangnya Neon Genensis Evangelion itu memberi harapan palsu, kita (manusia) tidak bisa melawan kehendak Tuhan dengan segala ciptaan kita!

“Science without religion is lame. Religion without science is blind.” Albert Einstein

 

Epilog: monumen reruntuhan Merapi

Sudah hampir sebulan Merapi meletus. Meskipun asap merapi telah mereda, namun debunya telah merasuk paru-paru kita, menyesak dan membekas di hati kita. Reruntuhan merapi menjadi sebuah monumen, monumen kekalahan media, tereksposnya keruntuhan moralitas, dan berserah dirinya sains dan teknologi. Monumen peringatan yang tetulis diatasnya segala teguran terhadap kita.

Masihkah kita angkuh?

Masihkah kita angkuh pada kemajuan sains dan teknologi? Jika sebenarnya masih banyak perkara yang kita tidak tahu menahu di bumi yang telah kita dihuni selama ribuan tahun.

Masihkah kita angkuh akan sebuah kebohongan, manipulasi kebenaran? jika pada akhirnya cepat atau lambat, kebenaran akan terkuak, secara halus maupun brutal.

Masihkah kita angkuh akan kekayaan dan seberapa banyak uang yang kita rampas? jika pada akhirnya, semua akan terbakar dan musnah.

Pantaskah kita angkuh?

wallahualam bissawab

apa yang benar datang dari Allah. Dan semua yang salah datang dari saya.

 

run!

Thursday, November 4, 2010 § Leave a comment

I love to run… I always want to run..

In the past I always run away from something,

But now it’s different kind of run,

I want to run towards something,

even there’re fears and worries while I run,

and even if I’m running towards disappointment ,

no worries! Let’s enjoy every events,

let’s remember moments…

Edisi #2

Thursday, August 19, 2010 § 2 Comments

http://akudanruang.wordpress.com/

Setelah merilis edisi pertama pada bulan Maret 2010, kini ruang hadir kembali pada edisi #2 dengan tema yang sedang hangat diperbincangkan, yaitu arsitektur hijau.

Seringkali kita melihat, mendengar dan membicarakan arsitektur hijau. Kata “arsitektur hijau” menjadi sebuah padanan kata yang rasanya membumi dan bersikap ramah terhadap lingkungan.

Sebenarnya, apa itu arsitektur hijau? Seberapa besar kita telah tenggelam dalam dunia arsitektur hijau? dan apa yang bisa dilakukan oleh arsitektur hijau untuk mengurangi beban lingkungan yang dialami bumi ini.

ruang #2 mencoba mengangkat tema arsitektur hijau, sebagai bagian dari kehidupan manusia yang berkelanjutan. Berbagai pandangan mengenai arsitektur hijau dikomunikasikan dan dikritisi dalam ruang #2. Arsitek prasetyoadi, realrich sjarief dan ivan nasution mencoba membagi pandangannya mengenai arsitektur hijau.

Simak pendapat beberapa alumni ITB, seperti Kusmayanto Kadiman dan Triharyo Soesilo mengenai arsitektur hijau dan simak juga perbincangan dengan Pak Hiramsyah S. Thaib, Presiden Direktur dan CEO Bakrieland Development,mengenai perkembangan arsitektur hijau di Indonesia. Tak lupa, nikmati pula perjalanan Goris ke Kopenhagen, Denmark untuk merasakan dan mengalami ruang-ruang pada Green Lighthouse, gedung yang diklaim dengan emisi karbon netral pertama di dunia

Selain itu, ruang#2 menyajikan beberapa karya arsitektur yang dibangun dengan pendekatan ‘hijau’ seperti yang bisa diliat pada bamboo house karya arsitek Budi Faisal atau Kawasan Gerbang Utara karya PDW. Pengambilan fotografi yang apik pada Bamboo House oleh Andhang Trihamdani melengkapi kenyamanan dalam menikmati arsitektur.

Untuk selengkapnya, dapat mengunduh ruang #2 (3.0 MB) dengan meng-klik berikut : (Ruang #2)

Selamat mengapresiasi
ruang | kreativitas tanpa batas

belum merdeka!

Tuesday, August 17, 2010 § Leave a comment

Dan dia tersesat di salah satu fragmen masa lalunya…

diantara labirin pikiran dengan dinding-dinding tinggi yang seolah tanpa jalan keluar…

tetapi dia berusaha mendengarkan cerita baru, lagu baru dan puisi baru…

namun yang terputar selalu lagu lama. lagu yang mendayu. dan menghipnotisnya dengan ironi.

Merdeka? apa itu? apakah kita merdeka?

ya ya.. cerita kemarin sore untuk berpesimis. tapi untuk merdeka, dia tidak yakin.

jika merdeka itu bebas untuk berpendapat, bebas untuk mengeksploitasi sumber alam, bebas memperkaya diri, kebal hukum untuk golongan tertentu dan bebas untuk menindas kaum tertentu.. nah, itu sudah memenuhi syarat..

“tapi apakah itu merdeka?” dia bertanya pada dirinya…

dan dia menolak untuk mengucapkan selamat.. belum saatnya..

dia malu, wahai merah putih! dia belum bisa mengusungmu yang sebenar-benarnya..

“terus berjuang para pejuangku! kita belum merdeka!”

dan dia berlari penuh semangat dengan merah putih didadanya